Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Sawi di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan

Share:
Perkembangan impor komoditas sayuran setiap tahun semakin meningkat. Pada tahun 2010, nilai impor sayuran hanya sekitar US$ 580.857.903. Tahun berikutnya nilai impor meningkat menjadi US$ 780.890.510. Tingginya nilai impor tersebut sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pasokan sayuran dalam negeri yang terus meningkat. Kondisi ini menjadi intropeksi bagi masyarakat Indonesia (Restu dan Renda, 2012).

Di dalam negeri pun permintaan sayuran komersial terus meningkat, terutama yang bermutu tinggi. Ini disebabkan pengetahuan dan daya beli masyarakat meningkat. Selain itu, banyaknya warga asing yang tinggal di Indonesia turut memperluas pasar sayuran komersial di dalam negeri. Seharusnya Indonesia sudah dapat memenuhi permintaann sayuran ini, baik dalam maupun luar negeri. Letak geografisnya memungkinkan ditanamnya sayuran komersial sepanjang tahun (Tim Penulis PS, 1993).

Demikian pula, sesuai dengan penduduk Sumatera Utara yang terus meningkat sehingga kebutuhan sayur-sayuran meningkat pula. Hal ini dapat dilihat melalui perkembangan luas tanam dan produksi usaha tani sawi secara fluktuasi di Sumatera Utara setiap tahunnya.

Tinjauan Pustaka Sawi (Brassica juncea) 

Sawi (Brassica juncea) berasal dari wilayah tengah Asia, dekat kaki pegunungan Himalaya. Migrasi terjadi ke pusat domestikasi sekunder di India, wilayah tengah dan barat Cina, dan wilayah pegunungan Kaukasus. Catatan dalam bahasa Sansekerta menunjukkan bahwa tanaman ini ditanam sejak tahun 3000 SM (Rubatzky,1998).

Sawi (Brassica juncea) merupakan tanaman semusim yang berdaun lonjong, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi yang termasuk family Cruciferae, dikenal ada tiga varietas yaitu sawi putih atau sawi jabung, sawi hijau, sawi huma (Tim Penulis PS, 1993). Sawi (Brassica juncea) berbeda dengan petsai (Brassica chinensis). Petsai adalah tanaman dataran tinggi sementara sawi bisa juga ditanam di dataran rendah. Batang sawi ramping dan lebih hijau sedangkan batang petsai gemuk dan berkelompok dengan daun dikenal juga putih kehijauan.

Ciri sawi yang khas ialah berdaun lonjong, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi yang banyak di tanam di Indonesia sebenarnya dengan nama caisim (Nazaruddin, 2000).

Pendapatan 

Menurut Teori Milton Friedman, pendapatan masyrakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pendapatan permanen dapat diartikan:
1. Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh adalah pendapatan dan upah gaji.
2. Pendapatan yang diperoleh dari hasil semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang (Sujarno, 2008). Besarnya pendapatan yang akan diperoleh dari suatu kegiatan usahatani tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha, pertanaman, dan efisiensi penggunaan tenaga kerja. Dalam melakukan kegiatan usahatani, petani berharap dapat meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan hidup sehari-hari dapat terpenuhi.

Harga dan produktivitas merupakan sumber dari faktor ketidakpastian, sehingga bila harga dan produksi berubah maka pendapatan yang diterima petani juga berubah (Soekartawi, 2011). Pendapatan kotor usahatani (gross farm income) didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual. Jangka waktu pembukuan umumnya setahun, dan mencakup semua produk. Selisih antara pendapatan kotor usahatani dan pengeluaran total usahatani disebut pendapatan bersih usahatani (Soekartawi, 2011).

Faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi Pendapatan  

1. Luas Lahan
Luas penguasaan lahan pertanian merupakan sesuatu yang sangat penting dalam proses produksi ataupun usaha tani dan usaha pertanian. Dalam usaha tani misalnya pemilikan atau penguasaan lahan sempit sudah pasti kurang efisien dibanding lahan yang lebih luas. Semakin sempit lahan usaha, semakin tidak efisien usaha tani dilakukan sehingga mempengaruhi tingkat pendapatan petani (Moehar Daniel, 2004).
2. Umur
Umur seseorang menentukan prestasi kerja atau kinerja orang tersebut. Semakin berat pekerjaan secara fisik maka semakin tua tenaga kerja akan semakin turun pula prestasinya. Maka, pendapatan yang akan diterima akan menurun pula. Namun, dalam hal tanggung jawab semakin tua umur tenaga kerja tidak berpengaruh karena justru semakin berpengalaman (Suratiyah, 2009).
3.Tingkat Pendidikan Formal
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup. Arti penting pendidikan semakin terasa, terutama dalam menghadapi era globalisasi dan perkembangan teknologi yang cepat. Pendidikan merupakan syarat utama guna masuk ke pasar kerja dan menciptakan SDM yang handal, oleh karena itu pendidikan masyarakat harus ditingkatkan sehingga kualitas produk dapat meningkat. Banyaknya atau lamanya sekolah pendidikan yang diterima seseorang akan berpengaruh terhadap kecakapan dalam keadaan tertentu. Sudah tentu kecakapan tersebut akan mengakibatkan kemampuan yang lebih besar dalam menghasilkan pendapatan. Tingkat pendidikan formal dimiliki akan memajukan tingkat pengetahuan serta wawasan yang luas untuk menerapkan apa yang diperoleh untuk peningkatan usahanya. Pendidikan rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia (Amnesi, 2013).
4. Lamanya berusahatani
Pengalaman berusahatani akan membantu para petani dalam mengambil keputusan berusahatani. Semakin lama pengalaman yang dimiliki oleh petani maka petani tersebut akan cenderung memiliki tingkat ketrampilan yang tinggi. Pengalaman berusahatani yang dimiliki oleh petani juga akan mendukung keberhasilan dalam usahatani (Sumantri dkk, 2004).
5. Jumlah Tanggungan
Jumlah tanggungan keluarga berkaitan erat dengan pendapatan yang diperoleh. Keadaan ini mendorong petani untuk terus berusaha meningkatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Besar kecilnya jumlah tanggungan keluarga sangat mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran petani karena semakin besar jumlah tanggungan keluarga akan semakin banyak keperluan hidup, terlebih lagi jika sebagian besar dari jumlah tanggungan keluarga tersebut tidak produktif. Sebaliknya, semakin kecil jumlah tanggungan keluarga akan memberikan gambaran hidup yang lebih sejahtera bagi petani (Soekartawi, 2011).
6. Biaya Produksi
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Biaya terjadi menjadi dua,yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit adalah biaya yang terlihat secara fisik, misalnya berupa uang. Sementara itu, biaya implisit adalah biaya yang tidak terlihat secara langsung, misalnya biaya kesempatan dan penyusutan barang modal (Prasetyo, 2008). 7. Tingkat Kosmopolitan Petani 
Tingkat kosmopolitan dapat diartikan sebagai keterbukaan maupun hubungan petani dengan dunia luar yang nantinya diharapkan akan memberikan inovasi baru bagi para petani dalam menjalankan usahataninya. Tingkat kosmopolitan dapat diukur dari perkembangan sumber inovasi baru, antara lain media elektronik, media cetak dan berpergiannya petani keluar daerah tempat tinggal mereka atau keluar desa dalam rangka memasarkan hasil usaha tani mereka serta mendapatkan pendidikan dan informasi mengenai inovasi pertanian untuk mengembangkan usahatani mereka (Fauzia dan Tampubolon, 1991).

Sumber:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/68989

Tidak ada komentar